iluhnuna

Ragam Kebiasaan Buruk Ini Terlihat Sangat Umum

17 komentar
contoh kebiasaan buruk

Dalam hidup bermasyarakat atau lebih sempit lagi dalam hubungan keluarga pasti ada saja orang yang unik. Orang yang suka sekali mengomentari urusan pribadi orang lain.

Pernah berhubungan dengan orang seperti itu? Aku rasa pasti pernah. Karena orang unik ini pertanda bahwa kamu masih tinggal di Indonesia.

Saking biasanya kita jadi lupa kalau beberapa hal yang kerap dipertanyakan itu sebenarnya sudah masuk ke ranah pribadi seseorang.

Lupa sih dulu dalam pelajaran budi pekerti pernah diajarkan atau tidak, ada yang namanya etika dasar saat berhadapan dengan orang. Terlebih kepada orang yang tidak kita begitu kenal. Istilahnya sekarang bukan bestie banget.

Belum mengenal orang secara luar dalam. Hanya sebatas kenal, saling sapa dan beramah tamah. Inilah beberapa contoh kebiasaan buruk "netizen" yang kerap kali kita jumpai. 

Ragam Pertanyaan Yang Bikin Panas Telinga

Ini berdasarkan pengalaman pribadi sih ya. Jadi dulu itu aku tidak pernah menerima pertanyaan yang bikin hati dongkol. Jaman sekolah, kerja semua berjalan normal. Biasa saja. Mungkin juga ini pengaruh lingkungan ya.

Jalan-jalan pulang tengah malam juga tidak ada yang nyinyir. Kehidupan sosialku aman bagi psikologisku. 

Giliran menikah dan punya suami kenapa kerap kali aku mendapat pertanyaan yang bikin telinga ini panas. 

1. Kapan Nikah?

kapan nikah

Udah seberapa sering teman nuna mendapat pertanyaan template begini? Biasanya pas kumpul keluarga di momen lebaran nih ada aja yang usil. 

Jadi di Indonesia ini seolah olah ada patokan usia dimana kamu harus sudah menikah pada usia tertentu. Nikah muda salah, nikah di usia tua juga salah. 

Tiba-tiba saja ada yang berkomentar tentang hidup orang lain. "Duh usia segitu kok ngga nikah-nikah sih". "kasian masa tua nanti" sering kita mendengar kata ini kan?

Jujur nih ya aku itu paling sebel kalau ada yang bertanya seperti ini. Apa pentingnya sih kita ngurusin kehidupan orang lain yang tidak berdampak langsung pada kehidupan pribadi kita.

Apakah ada jaminan dengan memiliki anak masa tua kita nanti akan baik-baik saja? Iya kalau si anak nantinya nempel terus sama orang tua sampai menikah dan punya anak. 

Kenyataannya saat ini banyak anak yang memilih pergi merantau entah karena tuntutan ikut suami atau mencari pekerjaan yang lebih baik. Sebagian besar orang tua tetap bekerja di usia tuanya dan bahkan hanya hidup berdua.

Aku bisa berkata seperti ini karena aku mengalami ini. Serupa pula dengan kenalanku. Dari segi materi sangat berkecukupan tapi tidak ada satupun anaknya yang tinggal dirumah. Satu anaknya pergi jauh karena ikut suami dan satunya lagi merantau jauh untuk bekerja. Orang tua pun akhirnya hanya tinggal berdua saja di rumah. 

Tapi ada baiknya juga setidaknya di saat kita sebagai orang tua telah pergi duluan setidaknya ada anak yang nantinya mengurus pemakaman. Mungkin ini maksud kekhawatiran tentang "masa tua nanti".

Setiap orang dalam menjalani hidupnya pasti sudah punya perhitungan dan rencananya sendiri. Mereka juga pasti punya alasan kuat kenapa belum juga menikah. 

Salah satunya bisa saja masih memiliki trauma masa lalu. Giliran diberitahu alasannya malah diremehkan. Minim empati banyak menghakimi. 

2. Kapan Punya Anak? atau Udah Hamil Belum?

Sudahlah nikah di buru-buru punya anak pun harus buru-buru. Sungguh aku mengheran. Kalau pertanyaan ini aku sempat merasakan sendiri.

Nikah baru beberapa bulan sudah ditanya-tanya "sudah isi belum?". "ayo buruan program minum ini itu" Segala ramuan disebut. 

Hey kami baru juga nikah hitungan bulan belum masuk usia 1 tahun kok udah dibombardir pertanyaan buruan hamil. Giliran hamil duluan baru nikah malah jadi bahan gunjingan. 

3. Bikin Adik Dong

menambah momongan

Ketika anak pertama lahir itu adalah suatu kebahagiaan bagi semua anggota keluarga. Semakin anak bertumbuh mulai deh pertanyaan membakar jiwa raga itu muncul.

"Bikinin adik dong" "Tambah anak lagi lah, kasian biar ada temennya" 

Serentetan pertanyaan serupa mulai muncul dari berbagai arah. Bahkan dari arah orang yang tidak kenal baik apalagi dekat dengan aku. 

Padahal dari orang tua aku sendiri saja mereka tidak pernah bertanya apalagi menuntut anaknya untuk segera beranak lagi. Karena aku dan adikku saja jaraknya 6 tahun. Kenapa pihak-pihak luar sangat usil mempertanyakan ini?

Belum lagi ketika aku mendapat perbandingan. "Itu mba A anaknya lo sudah 2, buruan dibikinin adik. Udah cocok sekali itu punya adik". Sungguh kata-kata mutiara itu sudah berada di ujung lidah.   

Apa sih urgensinya menuntut orang segera untuk punya anak lagi? Terserah mereka yang menjalani hidup kan mau punya anak 2 atau bahkan 10. Mau berjarak 2 tahun atau bahkan 5 tahun. 

Terkadang sudah anak 2 saja masih suka disuruh nambah lagi. Biasanya ini kalo kedua anak itu perempuan. Masih juga disuruh nambah anak biar punya anak laki. 

Lagi-lagi setiap keluarga sudah punya perhitungan dan rencana kedepannya. Kalau tidak terlibat langsung dalam pengasuhan anak tidak usahlah usil bertanya hal pribadi seperti ini. 

Seringkali orang bilang "kasian ngga ada temennya. Kalau punya adik kan punya temen"

Tahu darimana kalau anak pertama ini kasian. Tahu darimana kalau dengan dikasi adik dia akan otomatis bahagia? 

Bukankah kita sebagai orang tua harus mengkompromikan dahulu dengan anak. Memberi sugesti bahwa dengan adanya adik kasih sayang orangtuanya tidak akan berubah. Tentu saja itu butuh tindakan nyata setelah adik tersebut hadir.

4. Gemukan Ya

Sering tidak kita mendapat pernyataan menjatuhkan. Apalagi tentang penampilan. Bahasa sekarang itu body shaming.

Meskipun sadar diri tapi siapa sih yang suka dibilang "kok gemukan ya sekarang". Salah-salah justru mendapat amukan. Giliran kitanya marah justru dibilang baperan. 

Mempertanyakan hal seperti ini tidaklah cocok untuk dijadikan basa basi apalagi kalimat pembuka pembicaraan. Bertanyalah yang sekiranya orang itu akan bahagia mendengarnya. 

5. Berapa Sih Gajimu?

Harusnya sih ini etika dasar yang semestinya semua orang itu tahu. Bahwasanya mempertanyakan gaji seseorang itu sangatlah tidak sopan. Apalagi kalian tidak begitu kenal dekat dengan orang tersebut. 

Akan beda cerita kalau kalian bertanya masalah pendapatan ini kepada bestie kalian. Teman yang sudah sangat akrab sampai kita tahu betul seluk beluk kehidupannya.

Tapi jika hanya sekedar kenal dan sekedar bertukar sapa jangan pernah mengusiknya dengan pertanyaan tidak sopan ini.

Jika seseorang bisa membeli sesuatu dengan mudahnya berarti memang dia mempunyai rejeki yang cukup untuknya. 

Jadi tidak usah dipertanyakan kok bisa sih si A beli barang ****emang gajinya berapa sih?. 


Kesimpulan

Sungguh pertanyaan yang sangat lumrah sekali ya ditelinga kita. Bahkan saking lumrahnya kita sampai lupa kalau ragam pertanyaan tersebut sudah masuk ke ranah pribadi orang. 

Ragam pertanyaan yang sesungguhnya kurang sopan untuk dipertanyakan. Karena jatuhnya kita jadi nyinyir dengan kehidupan orang lain. 

Tapi berbagai contoh kebiasaan buruk tersebut mengingatkan kita bahwasanya kita memang lagi tinggal di Indonesia yang mana orangnya sangat perhatian sekali dengan kehidupan orang lain. 


De Eka
프라나와 엄마. KDrama Lovers. Jung Yong Hwa fans. Bucinnya Suga & Jekey!

Related Posts

17 komentar

  1. Relate banget mbaaak....kayaknya sudah turun temurun ya, nular gitu konten pertanyaannya. tapi kalo di lingkunganku tanggapan atas jawabanku masih lumayan, misal senyum meski rada gimana gitu. Paling Ndak nggak kayak muka Bu Tedjo lah hehe

    BalasHapus
  2. Punya anak 1 di suruh nambah adek. Giliran anak pertama dengan anak kedua jaraknya dekat, dinyinyirt. "Kasihan masih kecil udah ada adeknya! Tuh kan nangis terus dia karena dia iri sama adeknya! Ihhh, kebobolan ya" Dia kira bola apa ya. Aq pernah rasain itu kak. Jadi pelajaran buatku, pertanyaa2 itu nggk pantas ditanyakan ke orang lain. Aq setuju sama kakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan seolah² ngga ada habisnya itu pertanyaan kan

      Hapus
  3. Ya allah sangat merasakan ini di dunia nyata. Ini related banget.

    BalasHapus
  4. Hehehe... nitizen julid mode on ya, Mbak. Keknya template pertanyaan ini tuh harus diubah. Tanya basa-basi ya yang ringan dan menyenangkan saja jangan malah bikin emosi. Kalau dengerin dan nanggepin omongan orang memang bikin capek hati aja, ya.

    BalasHapus
  5. Saya dulu termasuk yang pernah mengalami pertanyaan kapan nikah dan atau kapan punya anak. Pertanyaan yang memang lumayan mengganggu dan sayangnya banyak menjadi kebiasaan di masyarakat kita padahal memang sangat tidak beretika, ya

    BalasHapus
  6. Orang-orang Indonesia memang punya "kepedulian" yang tinggi ya. Cuma karena tetanggaan, saudaraan, biasa ketemu seminggu sekali langsung berasa punya hak untuk tau segalanya wkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiii bener mba... Langsung berasa akrab. Ada enaknya emang tp semakin akrab semakin harus menguatkan mental

      Hapus
  7. Kalau aku pilih menej pikiran sendiri saja sih, orang mau nanya apa kalau amu dijawab ya jawab, kalau nggak mau ya udah. Memang udah bawaan di masyarakat gitu kan ya.

    BalasHapus
  8. Nomor satu adalah aku di masa lalu dan nomor 2 adalah aku di masa sekarang..hehehe...pertanyaan begitu memang ga akan ada habis nya sih...setelah nomor 2 nanti ditanya nomor 3 deh

    BalasHapus
  9. kudu punya mental baja nihh hehe soalnya kek gitu nggak akan ada abisnya..

    BalasHapus
  10. wkwkwk, sudah kebal dulu diriku diberondong dengan pertanyaan, kapan lulus, kapan nikah, kapan punya anak, secraa nikahnya juga sudah berumur dan lama juga dikaruniai anak
    jadinya sekarang saya pantang untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut ya, ga pengen orang lain melow seperti saya dulu, cukup saya aja yang dulu melow kalau diberondong pertanyaan seperti itu

    BalasHapus
  11. Ini related banget😭. Kenapa sih orang² tu suka banget ngurusin hidup orang lain. Jangankan orang lain. Orang tua sendiri pun suka nanya². Ada cowok yg deket gak? Kapan lagi umur makin nambah??
    Padahal mereka gak tahu aku punya ketakutan terhadap pernikahan. Gak ada role mode rumah tangga yg ideal di lingkunganku😭

    BalasHapus
  12. emang harus punya mental baja untuk orang-orang kayak gitu yaa karena kita sendiri gak bisa mengontrol pertanyaan rang - orang hehe...emang paling cukup senyumin aja dan pura-pura gak denger wkwkw

    BalasHapus
  13. Hahahaha itulah Indonesia, negara yang penduduknya dikenal ramah tamah. Tapi saking ramahnya, lip service mereka suka kelewatan wkwk. Kuatin mental dan home base education aja. Putus mata rantai pertanyaan ini.

    Aku memilih mengajarkan pada anak untuk tidak boleh bertanya hal demikian pad orang lain, karena ini diluar kuasa manusia. ada campur tangan Allah yang menentukan.

    BalasHapus
  14. Terkesan sebuah pertanyaan umum tapi ga disadari bikin malas, pdhal masih bisa bertanya hal lainnya tanpa menyentuh ranah pribadi

    BalasHapus
  15. Nah ini nih, yang sering saya temui juga. beberapa pertanyaan dari orang sekitar yang memang wajar sih. Tapi kadang nyesek. Apalagi pas kitanya sedang tidak baik-baik saja. Balik lagi ke mental ya mbak, hhhi

    BalasHapus

Posting Komentar