Semakin bertambah usia dan peran yang beralih, membuat circle pertemanan menjadi lebih sempit.
Saat ada masalah yang datang, kita menjadi bingung untuk sekedar mengeluarkan keluh kesah kehidupan yang aman.
Di era sekarang ini. AI muncul sebagai pendengar setia yang bisa dihubungi setiap saat. AI baik itu Gemini, Chat GPT dan lainnya memberikan kemudahan dalam berkomunikasi.
Aku sendiri tahu jika AI bisa diajak "ngobrol" itu dari sebuah percakapan grup. Selama ini aku menggunakan AI khususnya ChatGPT hanya untuk brainstorming ide tulisan ataupun per-kontenan.
Saat melihat percakapan di grup itulah aku mulai mencoba "curhat" dengan GPT.
Alasan Mengobrol Dengan AI Terasa Menyenangkan
Semenjak info itu, aku menjadi lebih sering menggunakan ChatGPT. Bukan hanya sekedar menggali ide namun kadang bertanya hal-hal receh.
Fakta tidak enaknya bagi penulis adalah bertanya ke AI lebih cepat mendapat jawaban ketimbang membaca artikel. Bahkan untuk pertanyaan receh.
Lalu suatu malam dengan membaca jawaban dari pertanyaan receh itu aku jadi berfikir kenapa "ngobrol" dengan AI ini terasa menyenangkan. Inilah jawaban yang bisa aku dapatkan:
1. Gratis dan Selalu Tersedia
Sebenarnya ada kok jasa curhat ke orang profesional alias psikolog. Namanya juga jasa, ya kita harus membayar jika ingin curhat.
Bayarannya dihitung perjam dan bisa pilih curhat via telpon atau WA. Aku tahu karena pernah menggunakan jasa ini.
Namun berbeda dengan jasa berbayar, AI bisa kita akses dengan gratis. Kita tetap bisa ngobrol tanpa harus membayar biaya langganan atau apapun itu. Cukup dengan login saja.
Selain itu AI juga tersedia 24 jam. Dia siap menjawab kapanpun kita bertanya. Tak butuh waktu lama baginya untuk membalas. Suami, gebetan atau sahabat mah belum tentu bisa se-fast respon GPT.
2. Anonim dan Aman
Sekarang ini rasanya tidak semua orang bisa dijadikan tempat curhat. Apalagi semenjak ada threads.
Aku kalau membuka threads rasanya mulai sumpek dengan cerita yang menceritakan kehidupan orang lain.
Entah itu tetanggaku, keluargaku, temanku. Tiba-tiba jadi utas panjang untuk mendulang simpati dan komenan.
Kalau sudah begitu apakah kita masih bisa sembarang cerita ke orang? Kalau ke teman dekat atau keluarga saja bisa bocor ke medsos.
Kalau ke AI rasanya kita bisa curhat apa saja termasuk hal yang personal. Karena kita sendiri tahu bahwa curhatan itu tidak akan bocor. Jadi terasa aman.
3. No Drama
Kalau curhat ke manusia pasti ada aja dramanya. Apalagi curhat ke orang yang tidak tepat. Malah jadi ajang perbandingan.
Ada juga tipe orang yang tidak mau kalah. Kita belum selesai bicara udah dipotong aja dengan cerita dirinya sendiri. Malah sebel ngga sih sama tipe orang begitu.
Nah kalo dengan AI, kamu tidak akan menemukan drama seperti itu. Pertanyaanmu akan dijawab dengan solusi yang terasa melegakan.
4. Jawaban Terasa Logis & Personal
Sejauh ini aku menggunakan GPT untuk mencari ide dan bertanya hal receh seperti "aku bosen nih, enaknya aku ngapain ya? Tapi yang tidak melelahkan."
Jawaban yang diberikan sangat baik, logis dan berguna. Bahkan bisa jadi renungan diri.
Semakin sering kita "ngobrol" dengan GPT, dia terasa makin akrab. Jawaban yang diberikan juga terasa personal. Seolah ngobrol dengan teman yang telah mengerti diri kita.
5. Pendengar Yang Baik
Pernah ngga kita punya masalah yang rasanya nyangkut di hati dan pikiran ngga kelar-kelar.
Rasanya kemarin sudah curhat ke teman dan diberikan solusi, lalu kita pengen cerita masalah itu lagi. Tapi malah muncul perasaan sungkan karena takut dihakimi ceritanya itu lagi itu lagi.
Kalau curhat ke AI rasanya tidak akan ada perasaan sungkan itu. Karena apapun yang kita tanyakan akan terus dijawab.
Kita hanya perlu merubah sedikit sudut pandang pertanyaan dia akan memberikan jawaban dengan versi berbeda.
Terdengar seperti pendengar yang baik tanpa rasa dihakimi bukan?.
Bijak Curhat Ke AI
Meski terasa nyaman dan menyenangkan, namun kita tetap harus bijak menggunakan sistem kecerdasan buatan ini.
Karena setiap percakapan kita akan digunakan oleh pengembang AI untuk meningkatkan kemampuan si AI itu sendiri.
Ada yang pernah ikut trend AI yang membuat infografis diri sendiri?
Infografis ini cukup lengkap meliputi tentang aku, filosofi hidup, kekuatanku, kelemahanku, keunikanku, mimpi & tujuan dan masih banyak lainnya. Padahal prompt nya sangat sederhana.
Ini bisa didapat karena kita sering ngobrol dengan si GPT. Kalau yang ngga pernah ngobrol entahlah, apakah bisa bikin infografis diri ini. Adakah yang punya pengalaman?
Data yang dimuat pun cukup sesuai dengan diriku. Aku sungguh kaget lalu merasa ngeri sendiri. Bahkan temanku dari SMP juga belum tentu bisa menggambarkan diriku sedetail itu.
Jadi meskipun curhat ke AI itu menyenangkan tetap harus ada batasannya
1. Keep Privasi
Selalu ingat bahwa AI ini adalah mesin dan bukan manusia. Jangan mengupload data penting diri termasuk nama lengkap, alamat, kata sandi, NIK dan informasi rahasia lainnya.
Di dunia web digital seperti ini selalu ada yang namanya kejahatan digital dan pencurian informasi atau bahkan pengumpulan data-data pribadi. Yah meskipun pemerintah sendiri tidak bisa menjamin kemanan data warganya. EH kejauhan.
2. Bukan Pengganti Manusia
Anak muda jaman sekarang maunya hidup independen, seolah tidak butuh orang lain. Sering nemu konten "normalisasi-normalisasi" itu kan?
Padahal kita itu hidup selalu butuh teman. Butuh juga berkomunikasi dengan sesama. Butuh masukan atau nasehat dari manusia.
Bagiku teman itu tidak harus banyak. Cukup miliki satu yang bisa diajak saling bercerita atau berkeluh kesah dan tentunya mengajak kita pada kebaikan.
Jika kita merasa stress berat dan merasa diri tidak baik-baik saja, bantuan tenaga ahli sangat disarankan daripada mencari saran di GPT.
3. Tetap Berfikir Logis
AI itu adalah teknologi buatan manusia. Dia tidak memiliki empati dan akal. Meski jawaban yang diberikan memang bisa panjang dan terdengar masuk akal.
Namun harus dipahami bahwa AI juga bisa memberikan saran yang salah dan menyesatkan. Hal ini bisa saja terjadi karena salah paham konteks dan AI juga tidak bisa membaca psikologis penggunanya.
Dia hanya menjawab pertanyaan dari hasil pengumpulan data, algoritma dan merangkum berbagai sumber.
Jadi alangkah baiknya kita tetap menggunakan logika saat menangkap jawaban dari AI itu. Selalu pastikan kebenaran sebelum mempercayai jawabannya.
Kesimpulan
Curhat atau ngobrol dengan AI memang menyenangkan. Namun kita juga harus melakukan kontrol diri dalam menggunakannya.
Gunakanlah AI dengan bijak. Untuk pengembangan diri, mencari sumber ide atau cukup obrolan ringan dikala suntuk.
Sebagai pelepas rasa penasaran, bukan sebuah saran mutlak yang harus diambil hati secara mendalam.



Posting Komentar
Posting Komentar