Dunia ini memang tempatnya lelah. Ya namanya juga dunia. Selalu ada saja yang membuat kita lelah. Entah itu lelah secara fisik maupun lelah secara mental.
Hal yang tanpa kita sadari sering kita lakukan adalah terus berpacu dengan melihat progres orang-orang disekitar kita. Kita akhirnya merasa tertinggal saat kita melangkah lebih pelan.
Ketika kita merasa sangat sibuk dan pontang panting, ingatlah bahwa kita sebenarnya memiliki kuasa.
-Hal 13.
Identitas Buku
Judul: The Things You Can See Only When You Slow Down
Tagline: Cara Untuk Tetap Tenang dan Berkesadaran di Tengah Dunia yang Serbacepat
Penulis: Haemin Sunim
Tahun Terbit: April 2020, cetakan pertama
Nama Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Jumlah Halaman: xi + 265 hlm
ISBN: 978-602-481-365-9
Jenis Buku: Non Fiksi
Kategori: Self Improvement
Blurb:
"Apakah memang dunia yang terlalu sibuk, atau malah batin saya?"
Dunia bergerak dengan cepat, tetapi tidak berarti kita juga harus begitu. Melalui buku ini, guru meditasi Zen Haemin Sunim mengajak kita untuk menyadari bahwa ketika melambatkan diri, dunia juga akan melambat bersama kita.
Pesan-pesan singkat Haemin Sunim yang ditulis untuk menjawab pertanyaan di media sosialnya menyasar kepada kekhawatiran manusia yang sudah menjadi bagian dalam kehidupan modern.
Bersama-sama kita akan mencari jalan menuju keseimbangan dan kedamaian batin di tengah berbagai tuntutan hidup sehari-hari lewat hal-hal sederhana, seperti beristirahat dan membangun hubungan baik antarmanusia.
The Things You Can see Only When You Slow down sudah terjual lebih dari 3 juta eksemplar di Korea Selatan dan menduduki peringkat pertama buku terlaris selama 41 minggu berturut-turut.
Kenapa Membaca Buku The Things You Can See Only When You Slow Down
Apa yang teman nuna pikirkan ketika membaca judul buku ini? Apakah jalan ketenangan atau kata-kata mendamaikan hati?
Itulah yang muncul ketika aku melihat buku ini. Kata orang don't judge the book by it's cover. Tapi selain cover, aku juga melihat judul sebuah buku. Nyatanya kedua detail itulah yang menjadi daya jual.
Tanpa melihat review buku ini dan siapa penulisnya, aku langsung tertarik karena judulnya itu. Mungkin karena jiwaku yang sedang tidak baik-baik saja, aku jadi lebih banyak membaca buku self improvement.
Ketika aku merasa "kumat" aku merasa butuh sebuah nasehat lewat rangkaian kata. Barangkali disana aku menemukan jawaban yang aku inginkan.
Begitulah akhirnya aku meminang buku ini. Buku yang sejatinya sudah lama aku inginkan dan baru bisa aku miliki.
Kesan Membaca
Sesuai dengan apa yang aku harapkan. Dalam buku ini ada ilustrasi berwarna karya Youngcheol Lee. Ilustrasi ini melengkapi isi buku dengan menghadirkan suasana yang menenangkan. Sebuah gambar yang bisa dinikmati lama-lama.
Buku ini terdiri dari 8 bab yang membahas berbagai aspek kehidupan. Setiap babnya diawali dengan esai singkat. Setelahnya barulah berisi kumpulan kalimat singkat yang quoteable dan menjadi bahan refleksi diri.
Jangan meratapi dunia yang telah berubah. Jangan membenci orang yang sudah berubah. Menilai keadaan sekarang melalui kenangan masa lalu bisa membuat sedih. Suka atau tidak, perubahan tidak dapat dihindari. Sambut dan terimalah perubahan.
-Hal 52.
Buku ini tidak terlalu tebal, namun menghabiskan waktu membaca yang cukup lama untuk aku pribadi. Mungkin karena memang buku ini bukan untuk dinikmati layaknya membaca novel. Tapi buku yang isinya harus dicerna perlahan.
Meski buku ini ditulis oleh seorang biksu namun penyampaiannya sangat universal dan masih dapat dinikmati. Bahasa yang digunakan juga sederhana. Sebuah pengingat untuk berkesadaran penuh atas kendali diri sendiri.



Posting Komentar
Posting Komentar