Belakangan ini media sosial sedang ramai perbincangan tentang buku Broken Strings karya seorang aktris Aurelie Moeremans. Jujur ada rasa senang ketika yang trending di media sosial itu adalah buku. Mungkin karena penulisnya adalah seorang aktris.
Buku ini dibagikan secara gratis melalui link bio Instagram Aurelie. Awalnya hanya tersedia dalam bahasa Inggris, namun banyak yang meminta dalam bahasa Indonesia. Akhirnya Aurelie menerjemahkan sendiri bukunya itu ke dalam bahasa Indonesia dalam waktu 3 hari.
Sungguh tak terbayang kejadian traumatik seperti itu harus dia hadapi di usia yang remaja. Usia yang seharusnya hanya berisi cinta monyet.
Sinopsis Broken Strings Aurelie Moeremans
Broken Strings: Kepingan Masa Muda Yang Patah adalah memoar yang Aurelie terbitkan pada 10 Oktober 2025. Namun mulai viral dan ramai diperbincangkan bulan Januari 2026.
Buku memoar ini mengangkat kisah masa mudanya yang kelam dan pahit. Bagaimana ia menghadapi hubungan yang toksik, manipulatif dan kekerasan fisik.
Broken Strings dimulai dari cerita masa remajanya di Brussels sampai akhirnya ke Indonesia. Saat Aurelie datang ke Indonesia dan memulai karirnya di dunia entertainment dia bertemu dengan laki-laki bernama Bobby (nama samaran). Pria yang usianya hampir kepala 3 saat Aurelie berusia 15 tahun.
Saat berhubungan bersama Bobby, Aurelie mengalami pelecehan dan kekerasan seksual. Sehingga menaikkan isu child grooming yang jarang dibahas.
Bobby awalnya datang sebagai sosok penolong, baik, ramah, supel dan perhatian. Namun lama-lama dia mulai mengendalikan hidupnya, manipulatif, memberikan tekanan psikologis sampai mulai berani main kekerasan fisik.
Pelajaran Dari Buku Broken Strings
Ketika aku membaca buku ini, aku suka bagaimana penulis menyajikan kisah kelamnya dengan sangat baik. Sebagai korban child grooming dan kekerasan pasti penulis memiliki trauma untuk kembali mengenang luka ini.
Ketika membaca bab awal buku ini aku langsung teringat dengan hubungan toksik yang pernah aku alami. Hubungan toksik itu masih menjadi trauma tersendiri bagi diriku. Polanya sama persis. Bahkan intimidasi perasaan itupun sama. Bedanya aku tidak jatuh terlalu dalam.
Buku ini menurutku banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Penulis bercerita tentang lukanya sekaligus menyebar pesan bermanfaat. Inilah pandanganku:
1. Jangan Gampang Bilang Iya
Dari cerita ini dimulai aku melihat sosok Aurelie ini tipe gadis polos dan tidak enakan. Apalagi dia ini baru di Indonesia dengan tujuan bekerja untuk merubah keadaan ekonomi keluarganya.
Dalam keadaan itu muncul sosok yang datang membantu dia. Sehingga ada perasaan hutang budi. Padahal tanda red flag lelaki ini sudah kelihatan di awal, hanya saja dia masih terlalu muda untuk memahaminya.
Ketika dia akhirnya diajak pacaran, dalam hati sesungguhnya dia tidak yakin. Dia ingin menolak tapi ada rasa bersalah juga karena lelaki ini banyak "berkorban" untuk dirinya.
Perasaan itu yang "mengintimidasi" sehingga dia gampang bilang YA. Padahal dalam hati tidak. Dalam hati meragu, apa ini tindakan benar.
Dalam keadaan ragu, ada baiknya kita memberi waktu untuk mengambil keputusan. Jangan mudah menerima perasaan orang lain dengan jawaban YA. Sebab IYA itu bisa jadi menjerumuskan.
Jangan mudah merasa kasihan kepada lelaki yang menaruh hati. Jika rasa kasihan lebih besar daripada rasa cinta maka itu sudah salah. Lebih baik tolak di awal. Disaat itulah sifat aslinya terlihat.
2. Ketegasan Orang Tua
Aku tidak ingin menghakimi, tapi yang pertama kali aku sorot dari kisah ini adalah orang tua, yang saat itu menemani Aurelie yaitu ibunya.
Berperan sebagai ibu memang tidak mudah. Apalagi disaat itu ibunya juga mengasuh sang adik. Namun dari kacamataku muncul pertanyaan mengapa ibunya membiarkan begitu saja saat sikap "tidak sopan" itu muncul?
Mulai dari si Bobby yang bebas berkunjung ke apartemen bahkan sampai masuk ke kamar. Berdua di kamar dengan pintu yang ditutup. Tidak adakah rasa "sudah keterlaluan?"
Belum lagi ketika Aurelie dicium dihadapan ibunya, dipaksa berbaring di pangkuannya. Jujur ada rasa gregetan membacanya. Andai saat itu ibunya langsung mengambil sikap tegas. Bisa jadi kisah ini tidak akan ada.
3. Memunculkan Sikap Keterbukaan
Aku pernah muda. Terlebih pernah berpacaran dengan orang toxic. Awalnya memang tidak terasa. Tidak terlihat. Normal saja. Namun waktu memperlihatkan segalanya.
Sebagai anak muda memang rasanya sungkan dan malu bercerita dengan orang tua. Takut dihakimi. Takut diremehkan.
Seperti perasaan yang dialami Aurelie. Itu adalah perasaan remaja yang sedang pacaran pada umumnya. Ingin cerita tapi lidah keburu kelu untuk menumpahkan kata-kata. Ada beragam rasa takut dan kekhawatiran.
Apalagi ego remaja yang masih labil, belum matang dan cenderung meledak-ledak. Rasanya susah ingin membangun komunikasi dengan orang tua agar muncul keterbukaan.
Aku dulu suka kesal karena bapakku selalu kepo dengan urusan asmaraku. Suka ngeledek, suka bertanya-tanya.
Tapi dari sanalah muncul rasa ingin bercerita. Bahkan kata-kata dari bapak itulah yang menyelamatkanku dari hubungan toxic itu.
Tanpa kusadari saat itu adalah cara bapak untuk membangun rasa nyaman. Sebagai orang tua kita harus bisa membuat anak bercerita dengan nyaman tanpa merasa dihakimi bahkan disudutkan.
Harus diakui memang peran ayah sangat penting dalam kehidupan anak perempuan. Dia tegas tapi tetap bisa menyentuh hati anaknya.
4. Cara Memberi Respon Kepada Anak
Ketika anaknya sudah jatuh lebih dalam, disitulah ibunya baru mengambil sikap tegas. Sayang kelicikan Bobby telah mengalahkan segalanya. Manipulasinya berhasil membawa Aurelie lebih jauh dengan ibunya.
Aku menyoroti bagian dia diusir dari rumah setelah mengakui bahwa mereka sudah menikah. Meskipun pernikahan itu adalah paksaan.
Sebagai ibu yang menaruh harapan besar kepada anak, lalu anak itu malah jauh dari harapan kita tentu saja ada rasa kecewa. Ada rasa marah yang menguasai diri. Ada emosi sesaat yang akhirnya meledak dan tanpa disadari justru melukai anak lebih dalam.
Saat berada di kondisi itu memang tidak mudah. Aku memahami perasaan ibunya yang diliputi rasa kecewa mendalam. Namun respon yang diberikan tetap salah.
Disaat sulit seperti itu respon yang harus diberikan sebaiknya tetap mendampingi anak. Ibu boleh kecewa dan marah. Namun jangan sampai terucap kata mengusir anak.
Tahan anak dirumah. Ibu bisa pergi sejenak menarik nafas dan menenangkan diri. Barulah rangkul anak dengan mendengarkan cerita versi dia.
Kesimpulan
Kisah ini ditulis yang akhirnya menyadarkan kita sebagai orang tua agar lebih bisa membangun komunikasi dua arah dengan anak. Apalagi dengan anak yang berada di usia remaja.
Semoga cara kita sebagai orang tua dalam memberi respon terhadap perilaku anak bisa lebih baik lagi. Belajar meredam emosi yang meledak saat perilaku anak mengecewakan.



Posting Komentar
Posting Komentar