iluhnuna

Viral, Menikah Usia 19 Tahun & Nafkahi Istri Jadi Babu, Ini Pandanganku

Posting Komentar


berita viral 2026


Apa yang lagi trending di awal tahun 2026 ini? 

Baru juga mulai 2026, medsos kali ini lagi rame oleh mba-mba eh bukan mba dong aku menyebutnya. Oke sebut saja bocil 19 tahun yang dengan bangganya menikah muda dan menginfluence orang-orang untuk nikah muda juga dengan membawa bawa agama. 

Masalahnya dia juga memandang kalo kuliah itu buang-buang waktu. Tapi pernyataannya dan perbuatannya tidak cocok menurutku. Dari konten yang beredar dia ini memutuskan berhenti sekolah diusia 15 tahun. Terus dia bergaul dan memulai kiprahnya menjadi volunteer bareng mahasiswa. 

Dalam narasinya dia berkata bahwa belajar itu ngga melulu dari kelas dan sekolah, tapi dari relasi dan pertemanan. Konteks itu ngga salah sih, cuma bukan berarti kita ngga harus sekolah dong. 

Jiwa julidku jadi ingin berkata " dik kamu itu benalu". Kamu bergaul dengan mahasiswa dan bergabung di lingkup mereka. Otomatis kamu juga dapet ilmu dari mereka. Ilmu yang mereka pelajari dari dosennya. Dan kamu menyerap itu. 

Satu lagi yang tidak kalah bikin ramai adalah pernyataan si ohim ohim itu. Aktor Ibrahim Risyad yang biasa dipanggil ohim, di suatu podcast bilang kalo dia tidak bisa jika istrinya memilih untuk tidak bekerja atau full menjadi IRT, karena ngga apple to apple katanya. Sebagai istri juga harus usaha jika ingin mendapatkan apa yang dia mau, jangan mengandalkan suami yang kerja lalu tinggal meminta. "Jatuhnya gue babu" begitu katanya.

Tentu saja pernyataan itu langsung diserbu oleh para perempuan dan lelaki yang sadar akan perannya.

Jadi gatel pengen bahas kedua konten ini ini.

Tentang Perempuan yang Berpendidikan Tinggi 

Kepada adek 19 tahun itu, bener kata salah satu netijen. Please stop jadi sales nikah muda. 

Nikah itu bukan pelarian, perlombaan atau sebuah capaian yang patut dibanggakan. Kalau kamu bahagia dengan pernikahan mudamu, ya alhamdullilah. Bersyukur, tapi jangan mengajak orang dengan membawa dalih agama. 

Mengarungi bahtera rumah tangga itu tidak gampang. Apalagi suamimu itu sampai bilang kalau kuliah itu scam, untuk yang tidak spesialisasi. 

Kamu bangga menikah di usia belia dan merasa bahagia dengan capaianmu itu, tapi kamu membandingkan diri dengan temanmu yang memilih untuk mengambil pendidikan lanjutan. Jadinya kamu butuh validasi atas tindakan besarmu. Apalagi sampai mengajak untuk nikah muda aja. 

Kalo kamu adalah pewaris, hidup berkecukupan, full dibiayai orang tua, cobalah untuk perluas lagi pergaulannya. Lihat kasus bagaimana anak yang menikah dini atau menikah di usia muda dengan keadaan ekonomi terbatas. Bukan dari lingkungan keluarga Cemara. Tidak ada dukungan finansial. 

Mereka yang hidupnya berjuang untuk makan. Mereka yang tidak beruntung dengan suaminya. Karena berdasarkan pengalaman dan pergaulan, usia seseorang itu tetap menunjukkan kedewasaan. Terutama dalam kedewasaan berfikir, menghadapi masalah serta mengambil sebuah keputusan. 

Dulu ada yang bilang " perempuan ngapain sekolah tinggi-tinggi toh ujungnya dirumah aja" itu pernyataan orang jaman dahulu. Generasi old. Jangan sampai generasi sekarang mengeluarkan statement seperti itu lagi.

Jaman sekarang seharusnya perempuan lebih sadar akan pendidikan. Meski dia tidak akan menjadi sesuatu yang "wah" diluar sana tapi dia adalah pion utama yang kelak mengajari anak-anaknya. Guru pertama bagi anaknya agar menjadi generasi yang cerdas dan kritis.

Apa jadinya ibu yang kurang berilmu mendidik anaknya? Mau menjawab apa jika nanti anak memiliki pertanyaan yang aneh? Aku rasa contohnya sering kali kita lihat di medsos.

Perkembangan teknologi sudah sedemikian maju, anak-anak juga sudah semakin kritis dengan rasa ingin tahunya.

Perempuan dengan pendidikan tinggi bukanlah sesuatu yang harus dikerdilkan. Bukan juga hal yang harus diperdebatkan. Di era yang serba tidak tentu ini, pendidikan tinggi tetap membuka peluang untuk mendapat pekerjaan lebih baik. 

Tentang Peran Suami Istri

Menanggapi pernyataan ohim ohim itu aku jadi ingin membahas peran suami istri. Entah apa yang dia pikirkan dengan apa yang dia ucapkan maksudnya berbeda atau memang begitu adanya, entahlah.

Jadinya berkaitan dengan masalah pendidikan yang aku bahas di atas ngga sih?. Aku tidak tahu latar keluarganya seperti apa sehingga dia memiliki konsep berumahtangga seperti itu. 

Bisa jadi dari faktor keluarga, faktor pergaulan atau juga luka masa kecilnya. Mungkin pernah mengalami, melihat atau mendengar perkataan seperti itu. Yang akhirnya melahirkan pemahaman "kalo suami doang yang kerja, trus istri tinggal minta doang ya aku jatuhnya babu". 

Tipe laki-laki tuh memang beragam pemikirannya. Menurutku ini juga berkaitan dengan pola asuh dan lingkungan. 

Ada suami yang memang menginginkan istrinya di rumah saja mengurus anak dan kebutuhannya tetap dipenuhi. Biasanya ini jika suami sudah memiliki finansial yang stabil. Tipe suami loyal.

Ada tipe yang tidak mempermasalahkan jika istrinya kerja. Kerjasama finansial demi masa depan keluarga katanya.

Ada juga tipe yang menikah tapi biaya hidup masing-masing. Suami istri bekerja namun untuk biaya hidup sendiri-sendiri. Ini tuh ada dan aku pernah menemui tipe ini. Dekat banget malah dengan kehidupanku. 

Intinya tipe-tipe berumah tangga itu unik. Ada yang beruntung, ada pula yang kurang beruntung. Tapi ada pula yang "kurang" rasa syukurnya.

Kadang kita suka membandingkan milik kita dengan milik orang lain sehingga kita lupa melihat kelebihan yang kita miliki.

Bagiku peran suami istri itu saling melengkapi, bukan saling mendominasi. Saling menghormati dan menghargai. Sebab kita manusia yang memiliki ego masing-masing yang "dipaksa" untuk sevisi misi. 

Kenali pasanganmu dengan baik sebelum melangkah lebih maju. Karena hidup berumah tangga itu selalu ada ujian dan cobaannya. 


De Eka
프라나와 엄마. KDrama Lovers. Jung Yong Hwa fans. Bucinnya Suga & Jekey!

Related Posts

Posting Komentar